4 Kemampuan Anak Cerdas Visual Spasial

Kecerdasan visual spasial adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam memahami bangun tiga dimensi atau ruang secara tepat. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada unsur garis, warna, bentuk, ruang dan hubungannya dengan unsur-unsur tersebut.

Anak yang mempunyai kecerdasan visual spasial tinggi biasanya mempunyai kemampuan untuk membayangkan dan menyampaikan idenya dalam bentuk gambar. Selain itu, mereka mempunyai kemampuan yang kuat untuk menciptakan imajinasi dalam pikirannya, terutama dalam menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi.


Kecerdasan visual spasial juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami, memproses, dan berpikir dalam bentuk visual.

Pada umumnya, anak dengan kecerdasan visual spasial tinggi akan bisa menerjemahkan bentuk-bentuk yang ada di pikirannya ke dalam bentuk gambar dua dimensi atau bahkan tiga dimensi.

Selain itu, mereka juga mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang arah, tata letak, dan posisi jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya.


Anak-anak ini juga sangat antusias ketika melakukan aktivitas yang berhubungan dengan konsep visual spasial seperti menggambar, mewarnai, menyusun balok-balok, dan sebagainya.

Adapun beberapa kemampuan terkait kecerdasan visual spasial adalah sebagai berikut.

4 Kemampuan Anak Cerdas Visual Spasial


1. Kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk.

Seperti lingkaran, bola, balok, kubus, prisma, limas dan sebagainya.

2. Kemampuan untuk membuat bentuk atau rancangan suatu bentuk bangun.

3. Kemampuan untuk mengenal warna dengan baik.

4. Kepekaan terhadap garis yang tinggi.

Anak dengan kecerdasan visual sangat tinggi, akan bisa menyelesaikan masalah ruang (spasial) dengan lebih mudah dibandingkan dengan anak-anak lain.

Selain itu, anak juga akan mampu mengamati dunia spasial secara akurat, bahkan membayangkan bentuk-bentuk geometri dan tiga dimensi, serta kemampuan memvisualisasikan dengan grafik atau ide tata ruang (spasial)

Related Posts:

Manfaat Permainan Puzzle untuk Anak

Mungkin saja diantara anak-anak kita ada yang sangat suka dengan mainan yang bernama puzzle. Hampir sepanjang waktu, buah hati kita akan lebih memilih bermain puzzle daripada mainan yang lain. Mereka akan tenang dan tampak berkonsentrasi mengutak-atik puzzle yang sedang dimainkannya.


Perlu kita ketahui, senang bermain puzzle merupakan suatu kebiasaan yang dimiliki oleh anak dengan kecerdasan visual spasial tinggi. Karena permainan puzzle ini merupakan salah satu permainan yang dapat merangsang kemampuan visual dan spasial anak.

Di antara berbagai macam mainan untuk anak, puzzle merupakan salah satu mainan yang sangat disarankan karena banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh anak.

4 Manfaat Permainan Puzzle

1. Meningkatkan kemampuan visual spasial anak.

Dengan menyusun puzzle, anak akan belajar tentang bentuk, garis, warna dan sebagainya. Mereka akan merangkai potongan-potongan gambar pada puzzle agar bisa membentuk gambar yang tepat.

Selain itu, ketika memasangkan potongan-potongan puzzle, kemampuan spasial anak juga akan terasah. KJarena mereka akan memilih potongan puzzle yang bisa diletakkan pada papan puzzle dengan pas.

2. Meningkatkan keterampilan motorik halus. 

Keterampilan motorik halus merupakan kemampuan yang berhubungan dengan otot-otot kecil anak, terutama tangan dan jari-jari tangan. Melalui aktivitas puzzle, tanpa disadari anak akan belajar secara aktif untuk menggunakan jari-jari tangannya untuk menyususn gambar yang tepat.

3. Meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan untuk belajar memecahkan masalah. Melalui permainan puzzle, akan akan mencoba memecahkan masalah yaitu dengan menyusun gambar yang tepat.

4. Meningkatkan kemampuan soial.

Puzzle merupakan permainan yang bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Ketika dimainkan dalam kelompok, hal ini bisa meningkatkan interaksi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.


Dalam melakukan permainan, anak akan berlatih untuk saling menghargai, memberi kesempatan kepada temannya, saling berdiskusi dan saling bantu satu sama lain.

Agar buah hati bisa bermain puzzle dengan efektif seperti yang diharapkan, maka dibutuhkan pula puzzle yang tepat dan sesuai perkembangan anak.

Oleh sebab itu, sebaiknya kita memastikan bahwa puzzle yang kita pilih sesuai dengan usia buah hati kita. Karena kalau memilih puzzle yang sulit dipecahkan, dikhawatirkan anak akan merasa kesulitan dan menyerah sebelum berhasil menyusun gambar dengan tepat.

Sebaliknya, bila puzzle yang dimainkan terlalu mudah, buah hati kita pun akan merasa tidak tertantang dan menjadi bosan.

Selain itu, sebaiknya kita juga memilih puzzle dengan bahan yang tebal. Hal ini dimaksudkan agar puzzle dengan mudah disusn dan tidak mudah sobek.

Related Posts:

5 Strategi Mengembangkan Kecerdasan Spiritual

Wajib hukumnya bagi seorang anak yang mempunyai tanda-tanda kecerdasan spiritual mengembangkannya secara maksimal. Tentu saja hal ini tak mengherankan kalau orang tua dan orang sekitarnya ikut serta membantu mengembangkannya.

Apalagi kalau anaknya memang berbakat dilihat dari penampilan ataupun tingkah lakunya.


Latihlah anak untuk segera belajar untuk memahami arti dan makna kehidupan secara mandiri. Kita sebaiknya tidak mengganggunya, namun ketika ia membutuhkan kita untuk membantunya menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul, sebagai orang tua hendaknya membantu dengan bijak.

Memang sangat sedikit sekali, anak yang memiliki bakat kemampuan kecerdasan spiritual, karena kecerdasan spiritual rata-rata lahir secara alami dan orang tua hanya perlu mendukungnya saja. Meski tak semuanya begitu.

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengembangkan kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh anaknya.

5 Strategi Mengembangkan Kecerdasan Spiritual


1. Tidak mengganggunya saat merenung.

Biarkan saja anak memikirkan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang direnungkannya antara lain mengenai dirinya sendiri, hubungan dengan orang lain, serta peristiwa yang tengah dihadapi.

2. Mengambil hikmah dari setiap hal yang terjadi.

Setiap kejadian yang telah terjadi, pasti ada hikmahnya yang bisa diambil. Semua itu tergantung dari sudut pandang diri sendiri, tak terkecuali pada anak. Arahkan setiap hal yang terjadi pada anak untuk diambil hikmahnya.


3. Bimbing untuk mengetahui tujuan hidup.

Bimbinglah anak untuk mengetahui tujuan hidupnya, tanggung jawabnya sebagai anak, sebagai mskhluk Tuhan, serta kewajiban apa yang harus dilakukannya.

Ajarkan anak untuk melaksanakan kewajiban terlebih dahulu, baru menuntuk haknya.

4. Berikan cerita-cerita yang menginspirasi anak.

5. Ajarkan anak untuk bersosialisasi.

Arahkan anak agar mau bersosialisasi dengan banyak orang.

Dengan bersosialisasi, ia akan belajar tentang bagaimana ia bersikap dan berprilaku kepada orang lain. Ia akan belajar nilai-nilai moral dan emosional, misalnya saja menghargai pendapat orang lain, bersikap empati, berbuat baik, suka menolong, dan lain sebagainya.

Dari itulah orang tua perlu mengajak anak untuk berkumpul dengan anak seusianya maupun anak yang lebih tua, bermain dan sebagainya.

Related Posts:

Positif Negatif Game Action Bagi Anak

Kita semua tahu bahwa anak sebenarnya sangalah dekat dengan aktivitas bermain dan permainan. Nah, dan yang menandakan kalau si anak memiliki kecerdasan matematis logis yang baik yaitu mereka menykai sekali permainan atau game yang berbau strategi untuk tampil selalu menang.

Permainan atau game strategi tersebut merupakan permainan yang membutuhkan strategi tertentu untuk memainkannya.

Si anak kalau gagal, berarti mereka salah atau kurang tepat menerapkan strategi, dan mewajibkannya untuk mengulangi lagi dan tentunya dengan strategi yang lain agar si anak bisa menang.


Contoh permainan game yang membutuhkan strategi adalah:
  • Catur.
  • Sudoku.
  • Game action.
  • Dan sebagainya.

Di antara permainan game yang membutuhkan strategi tersebut, mungkin game action yang paling disukai oleh anak-anak. Karena selain bervariasi, efek visual dan audio yang disuguhkan pun menjadikannya begitu sangat menarik bagi si anak.

3 Dampak Positif Game Action

1. Kemampuan anak untuk memperhatikan sesuatu bisa meningkat pesat.

2. Terbangunnya sikap mental anak untuk menang sehingga dapat membentuk sikap positif yang baik.

3. Melatih anak untuk merancang strategi.

Maka ketika si anak gagal dalam merancang strategi, maka kesempatannya untuk menang dalam game pun semakin kecil. Semua anak pastinya ingin menang dalam bermain game, terutama game ection.

Perlu diingat, meskipun game action ini memiliki banyak manfaat, tentu ada beberapa hal negatif yang kemungkinan besar akan diperoleh anak ketika memainkannya.


Dari sinilah peran orang tua sangat diperlukan untuk membantu anak mendapatkan hal-hal yang positif saja secara maksimal dan meredam hal-hal negatif agar tidak dilakukannya di dunia nyata.

Orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam game action tersebut hanyalah permainan belaka dan tidak dapat dilakukan dalam kehidupan nyata. Sebagai orang tua, kita juga harus menyadari peran kita dalam memberikan edukasi melalui game.

Tak hanya memberikan game saja, namun juga harus mampu mempertanggungjawabkannya.

Dampak Negatif Game Action


1. Unsur kekerasan.

2. Teror yang menakutkan.

3. Kadang anak terbelenggu main game seharian.

Dalam memilih game pada anak tidak asal atau sembarangan. Meskipun banyak game yang mendidik anak agar menjadi lebih cerdas dan kreatif, kita tak boleh membebaskan mereka begitu saja dalam menikmati sajian game.

Meskipun anak sudah bisa memilih sendiri game yang baik untuknya, namun kita harus tetap jeli untuk mengawasi dan sebisa mungkin melakukan pendampingan terhadap aktivitas mereka.

Related Posts:

Mengenalkan Anak Makna Silaturahim

Selain baju lebaran dan angpau, momen idul fitri justru menjadi sangat penting sebagai sarana mendidik anak tentang makna silaturahim. Mengajak anak berkunjung ke sanak saudara serta saling memaafkan menjadi salah satu hal yang dicontohkan orang tua kepada anaknya.

Sejatinya makna dari silaturahim mudah sekali ditanamkan pada anak-anak. Pada praktiknya, silaturahim ini adalah bermain, mengunjungi sanak famili dan para tetangga.


Namun meskipun mudah, akan sulit ditangkap maknanya jika orang tua tidak mampu memberikan penjelasan mengapa kita harus mengunjungi mereka, kenapa kita harus bersilaturahim.

Berilah Keteladanan

Hikmah dari silatuurahim adalah memperpanjang umur dan mempermudah rezeki. Namun anak belum bisa menangkapnya maka katakan saja bahwa kita silaturahim biar punya banyak teman, dan teman adalah rezeki. Bisa dimisalkan demikian untuk pemahaman terhadap anak.

Pada saat silaturahim itu kita juga bisa mengajarkan kepada anak untuk berbagi. Misalnya saja ketika ke rumah kakek dan neneknya, sambil membawa oleh-oleh.

Berilah anak kesempatan untuk memberikan oleh-olehnya kepada kakek dan neneknya. Katakan pada anak bahwa kalau mereka sering memberi seperti ini, maka kelak akan diberi juga oleh orang lain.

Proses penanaman nilai secara langsung melibatkan anak, menjadikannya sebagai pengalaman. Kelak saat dewasa, akan mudah menjadi kebiasaan dan ank mudah paham.

Saling Memaafkan

Dalam silaturahim ada nilai saling maaf dan memaafkan. Ketika mengajak anak untuk silaturahim, perlu juga menghajari anak untuk meminta maaf dan memaafkan.

Katakan pada anak bahwa sikap maaf memaafkan adalah bagian yang harus dilakukan saat silaturahim. Namun orang tua sebaiknya jangan terlalu memaksakan anak saat menenyuruh meminta maaf dan memaafkan.

Libatkan Emosi Anak

Silturahim sebenarnya juga merupakan momen untuk membangkitkan perkembangan emosi sosial anak. Jadi, saat mengajaknya silaturahim, anak perlu diberi kebebasan berekspresi.

Bukalah ruang bermain dengan anak-anak yang lain secara lebih leluasa, karena silaturahim juga bagian dari melatih perkembangan emosi anak. Jangan buat anak dalam situasi tidak nyaman atau tertekan.

Pada intinya adalah bangunlah suasana rumah kakek dan nenek serta saudaranya yang lain itu tempat berlibur, bukan justru anak lebih banyak diajak ke tempat wisata.

Related Posts:

Menu Sahur dan Berbuka yang Tepat untuk Anak

Namanya saja masih anak-anak, mereka kan masih dalam tahap belajar untuk berpuasa. Jadi sebaiknya mereka diberi menu makan sahur dan berbuka dengan yang memenuhi standar gizi seimbang.

Tujuannya adalah agar mereka bisa kuat dan bertahan hingga bedug maghrib datang. Tapi jangan dipaksakan juga, sekiranya si kecil tidak kuat, boleh juga mereka makan agar tidak sakit.

Menu santapan sahur dan berbuka usahakan spesial dengan kandungan nutrisi yang cukup. Jangan sampai lupa diberikan segelas susu agar badan mereka tetap terus dapat tumbuh berkembang dengan baik.

Makanan yang Mengenyangkan untuk Sahur misalnya adalah:
  • Semangka.
  • Anggur.
  • Wortel.
  • Jeruk.
  • Ikan kukus.
  • Dada ayam panggang.
  • Apel.
  • Sirloin kukus.
  • Kentang panggang.
  • Popcorn.
  • Pisang.
Makanan untuk Takjil misalnya:
Makanan dan minuman yang manis untuk memenuhi kebutuhan gula anak, tapi jangan berlebihan karena makanan atau minuman manis yang berlebih hanya akan membuat anak mengonsumsi makanan besar. Akibatnya nutrisi nanti tidak akan terpenuhi.

Sementara itu, pada saat berbuka puasa, sama halnya dengan sahur yaitu gizi seimbang harus diperhatikan. Jangan lupa berikan susu ketika berbuka.

Makanan Berbuka Puasa

Pilih makanan dengan indeks glikemik tinggi saat berbuka puasa, seperti:
  • Bagel.
  • Donat.
  • Roti putih.
  • Corn flakes.
  • Wafel.
  • Kentang panggang.
  • Wortel.
  • Semangka.

Related Posts:

Mengatur Gizi Anak Ketika Berpuasa

Ketika berpuasa, si kecil membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Tujuannya agar selama siang hari, mereka kuat menjalankan ibadah puasa sambil tetap beraktivitas dan tidak merasa lemas.

Oleh karena itulah, Anda sebagai orang tua terutama si ibu, haruslah menyediakan menu sahur dan berbuka yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan gizi anak.


Puasa untuk anak sebenarnya hanya bentuk latihan saja, jadi jangan sampai dipaksakan jika si anak tidak kuat. Namun jika si kecil telah mampu untuk melakukan puasa selama sehari full, maka tidak ada salahnya Anda sebagai orang tua mensupport anak.

Salah satu bentuk support yang bisa diberikan adalah dengan menyediakan menu sahur dan berbuka dengan makanan yang bergizi. Hal ini sama seperti menu pada orang dewas selama Ramadan, yaitu harus memenuhi gizi seimbang dan kaya akan serat.

Karbohidrat, protein, lemak dan vitamin lain haruslah diperhatikan dan harus lengkap diberikan, agar anak yang masih dalam masa pertumbuhan tidak terganggu metabolisme pencernaannya.

Menu Berbuka dan Sahur

Pemilihan menu yang tepat akan sangat mempengaruhi aktivitas anak sehari-hari saat berpuasa. Seperti pada saat sahur, maka menu sahur haruslah memenuhi gizi seimbang agar bisa memberikan cadangan energi nanti selama seharian. Karena itu, usahakan untuk memberi asupan serat yang berasal dari buah dan sayuran.

Lalu karbohidrat yang terdapat dalam nasi dan kentang juga protein hewani dan nabati. Protein hewani terdapat dalam ayam, daging, ikan dan telur. Sedangkan protein nabati berasal dari tahu dan tempe. Dan yang terakhir,engkapi juga menu sahur dengan susu.

Snack Buah

Selain menu berbuka puasa, Anda juga bisa memberikan snack di saat senggang seperti pada saat setelah shalat tarawih. Nah, untuk snack yang tepat pilihlah buah potong atau makanan olahan buah.

Bisa jadi pudding buah atau kue buah lainnya. Untuk buah, yang paling baik adalah buah dengan kadar gula tinggi seperti semangka dan bengkuang.

Makanan yang dilarang untuk anak saat berpuasa

Ada beberapa makanan yang harus dihindari atau dikonsumsi anak saat berpuasa, diantaranya adalah:
  1. Makanan pedas.
  2. Gorengan.
  3. Minuman berkarbonisasi.

Alasannya adalah karena makanan tersebut kurang mencukupi kebutuhan nutrisi. Asupan makanan asin saat sahur juga perlu harus dibatasi karena dikhawatirkan bisa memicu rasa haus pada siang harinya.

Dan satu lagi, Segera berbuka dan mengakhirkan makan sahur.

Related Posts:

9 Makanan Manis yang Dianjurkan Selama Ramadan

Memang sangatlah dianjurkan untuk mengonsumsi minuman atau minuman manis saat berbuka puasa. Tujuan sebenarnya adalah untuk mengembalikan asupan energi anak selama berpuasa.

Namun, orang tua haruslah waspada karena tak semua yang manis-manis baik untuk kesehatan. Selain menghindari pemanis buatan, sebaiknya anak dibiasakan untuk mengonsumsi makanan manis dari bahan-bahan yang alami.


Makanan atau minuman manis dapat mempercepat proses metabolisme dalam tubuh sehingga bisa menggantikan gula darah yang sudah keluar karena berpuasa seharian.

Sebenarnya jika salah memilih menu makanan dan minuman yang manis, efeknya akan membuat anak malah tidak semangat, semakin lemas dan menyebabkan ngantuk. Maka dari itu, orang tua jangan sembarangan memberikan makanan atau minuman yang manis terlalu banyak, pilih yang herbal saja agar aman.


9 Makanan Manis yang Dianjurkan

Berikut ini anjuran makanan yang resmi dari pemerintah elalui Kabalitbangkes Kemkes Republik Indonesia.

1. Makanan manis yang disarankan yaitu kurma.

2. Boleh mengonsumsi yang manis asalkan jangan berlebihan.'

3. Hindari sirup dengan pemanis buatan.

4. Kurangi gorengan yang manis-manis.

5. Hindari makanan yang bersantan manis.

6. Saat sahur sebaiknya makan dengan kandungan glikemik indeks, seperti beras merah dan rati gandum.

7. Selalu konsumsi sahur.

8. Pengganti manis, bisa diganti dengan buah.

9. Konsumsi jus buah.

Bukan orang dewasa saja yang disarankan untuk waspada terhadap minuman atau makanan yang manis selama Ramadan, tapi juga buat anak-anak. Kalau anak sudah terbiasa dengan makanan manis yang dianjurkan pemerintah, ke depannya mereka akan semakin terbiasa dengan hal itu sehingga psikologis anak akan semakin mantap mengenai makanan atau minuman sahur dan berbuka puasa.

Related Posts:

Tips Melatih Anak agar Suka Bersedekah

Usia anak antara dua hingga empat tahun adalah fase egosentris dimana si kecil bertindak semau dan seenaknya sendiri. Jika pada fase ini anak dibiarkan begitu saja, maka kelak kemungkinan besar si anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Sekarang ini bulan Ramada, saat dan waktu yang tepat dan jadi momen istimewa untuk mengedukasi anak dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah dengan mengajari mereka agar suka berbagi dengan orang lain.


Untuk itu, kegiatan infak, sedekah maupun berzakat bisa menjadi sarana agar mereka mempunyai kepekaan terhadap sosial. Penting sekali bagi orang tua untuk memulai membiasakan anak untuk suka berbagi.

Melatih Emosi dan Sosial Anak


Pembiasaan yang ditegaskan di sini ada dua hal yaitu yang bersifat internal di lingkungan keluarga dan eksternal di luar rumah.

Misalnya saja kalau di rumah, suruhlah anak membagikan makanan sama ayahnya, kakaknya atau keluarga yang lain, mulai di lingkungan keluarga. Sedangkan pembiasaan di luar rumah contohnya adalah dengan cara melatih anak untuk berbagi bekal ketika bermain atau di sekolah.

Ketika di ajak ke masjid, ajari bersedekah lewat kotak infak.
Dalam pembiasaan ini tentu butuh sikap keteladanan. Jadi, orang tua harus memperlihatkan sikap yang sama. Ketika kita berbagi dengan orang lain, kakak atau adik kita atau bahkan tetangga, lakukanlah di depan anak. Itulah teknik melatih perkembangan emosi dan sosial anak.

Manfaatkan Momen

Bulan Ramadan inilah saat yang paling tepat untuk melatih perkembangan emosi dan sosial anak agar peka untuk berbagi. Kalau kebetulan kita sedang berbagi tkjil, usahakan anak ikut terlibat ke dalamnya. Jangan sampai lupa untuk memberikan penjelasan kenapa kita harus berbagi takjil.

Selain itu, ketika anak diajak ke masjid, latihlah anak agar menyisihkan uang di kotak infak. Pada umumnya, orang Indonesia pada bulan Ramadan intensitas ke masjidnya sangat tinggi. Jadi, intensitas melatih anak berbagi pun juga perlu ditingkatkan. Kalau sebelumnya hanya pada hari jumat saja, mungkin melebar bisa dilakukan setiap tarawih atau berapa kali dalam seminggu.



Latihan-latihan seperti itulah merupakan kunci anak tidak tumbuh pelit dan tak punya kepekaan untuk berbagi dengan sesamanya.

Ketika momen buka puasa pun kita bisa mengaktifkan emosinya dengan cara menceritakan bahwa di luar sana banyak orang yang tidak makan seperti kita, bahkan mereka merasa kesulitan makan karena tidak punya uang untuk membeli makanan.

Cerita menggugah semacam itu perlu disampaikan sebagai alasan kenapa kita perlu berbagi dengan orang lain dan menyisihkan uang di kotak infak.

Bermain ke Amil Zakat

Ada kalanya, Anda juga perlu mengajak anak untuk berkunjung ke tempat amil zakat, misalnya saja ketika kita akan berzakat, maka lakukanlah beserta anak.

Bahkan kalau bisa, anak harus dilatih membawa zakatnya sendiri ketika mendatangi amil zakat. Sebab dengan mengalami adalah cara belajar yang cepat diulangi dan dipahami.

Ketika di tempat amil zakat, orang tua juga perlu membangkitkan momen-momen emosinya.
Misalnya ketika melihat tumpukan beras, katakan pada anak bahwa itu akan dibagikan kepada orang yang tak mampu. Itu adalah harta kita yang harus dibagikan untuk orang lain.

Related Posts:

Tips Mengajari Anak Tarawih Sejak Dini

Usia dini bisa menjadi momen emas untuk mengajak anak beribadah. Salah satunya adalah ibadah shalat tarawih.
Selain membuat si kecil belajar bersosialisasi, tarawih juga berguna untuk membiasakan mereka berdisiplin dalam menjalankan ibadah.

Rata-rata dan mayoritas anak-anak gemar mengikuti kegiatan selama bulan Ramadan.
Termasuk juga dengan ibadah shalat tarawih, meskipun ada juga yang malas karena terlalu lama dan suasananya tidak begitu menyenangkan.


Mereka senang karena di masjid banyak teman sebayanya, bisa datang beramai-ramai. Apalagi terkadang ada juga orang tua yang memotivasi kepada anak-anaknya bagi siapa yang makin rajin di sepuluh Ramadan terakhir, akan diberi semacam hadiah yang bentuknya bisa berupa uang maupun yang lainnya.

Sebagai orang tua, sudah tentu akan merasa bahagia melihat putra-putrinya giat menjalankan kegiatan ibadah selama bulan Ramadan. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua anak dengan mudah diajak shalat tarawih.

Dampak Positif Tarawih

Tarawih ini bisa memberikan dampak positif pada perilaku anak. Dilihat dari usianya, tak jarang si anak menjadi rewel, enggan diajak shalat tarawih ke masjid.

1. Anak akan mudah bersosialisasi.

2. Menanamkan nilai-nilai agama agar terbiasa dengan ibadah.

3. Anak menjadi suka bersedekah.

Ajaklah anak Anda memasuki masjid kemudian ajari anak untuk berinfaq di kotak amal. Dari situ, anak-anak akan terbangun jiwanya untuk berbagi dengan sesama.

Kemudian ajari anak untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat. Lama kelamaan anak akan terbiasa dengan hal demikian, juga dengan doa-doa sebelum dan sesudah shalat tarawih. Biasanya dengan sendirinya anak akan hafal dan mengikuti bacaan imam.

Siapkan Fisik

Mengajari anak shalat tarawih di masjid akan mudah di beberapa usia.
Lazimnya, mengajak anak ke masjid ketika berusia 4 tahun ke atas, maka akan lebih mudah dan tidak rewel. Berbeda bila usia di bawah itu, bisa jadi anak malah rewel dan mengajak pulang.


Kemudian, mengajari anak untuk shalat tarawih itu perlu persiapan fisik. Fisik anak haruslah benar-benar fit karena rakaatnya lumayan banyak dan mengurus tenaga si kecil.
Jangan sampai saat shalat anak tiba-tiba jatuh atau sakit. Pastikan saja bahwa anak Anda tidak dalam keadaan lapat dan tidak terlalu lelah.

Menghafal Niat

Sebelum Anda mengajak anak terawih, tak ada salahnya Anda juga bisa mengajarkan bagaimana bacaan niat shalat tarawih itu.
Tujuannya selain tarawih, anak juga langsung paham doa apa saja yang dibaca selama tarawih berlangsung.

Semakin sering Anda mengjari menghafal, semakin cepat pula anak Anda akan mengerti dan paham. Sehingga anak Anda akan bisa mengerti tentang doa-doanya.

Belikan Perlengkapan Shalat

Tal ada salahnya pula sebagai orang tua, membelikan perlengkapan shalat seperti mukena, sarung, sajadah, peci dan sebagainya. Paling tidak ini akan menjadikan anak bersemangat untuk beribadah. Tak hanya shalat tarawih saja tetapi juga tadarus.

Related Posts:

Label