Jam 19.00 magrib warung di Manyar Gresik baru rame, lampu LED Philips 18 watt nyala terang, ngopi monggo di Toko Kito. Ada Bu Ani bawa anaknya umur 4 tahun, anaknya nangis lihat bayangan glodhogan kotak rumah tawon. "Alaa, penakut kamu, kayak gini aja takut!" kata ibunya keras. Anaknya makin nangis kejer.
Saya yang jaga warung jam 05.00-22.00 diam saja, tapi hati mak nyus, kasihan. Manyar Gresik is Yes lah, meski di desa hehe, didik anak masih banyak yang pakai label. Padahal rasa takut itu wajar, Boz. Semua anak takut, bahkan orang dewasa juga takut.
Anak takut bukan penakut, dia cuma butuh ditemani, bukan dimarahi.
Mbah Kromo 78 tahun mantan malang (polisi desa zaman dulu) yang lagi ngopi hitam pahit jam 6 pagi ala tukang bangunan bilang, "Le, bocah wedi iku wajar, jenenge sinau. Gedhogan iku omahe jaran, nek jaran wedi, sing nduwe ngelus, ora mbentak. Bocah yo ngono." Artinya anak takut itu lagi belajar, harus dielus, bukan dibentak.
Diary malam ini tak tulis, mumpung laptop Toshiba Satellite L755 adem diganjal tutup botol Aqua, padahal siang cuma laku es teh 2 plastik dan kopi panas 4 gelas. Saya rangkum kenapa rasa takut pada anak itu wajar dan jangan dibilang penakut. Ono wong moco, oleh manfaat, dadi ganjaran.
Kenapa Anak Takut dan Apa yang Harus Dilakukan?
1. Takut Itu Bagian dari Otak yang Tumbuh.
Anak umur 2-6 tahun imajinasinya tinggi, tapi logikanya belum matang. Jadi bayangan, suara keras, gelap, orang baru, dianggap bahaya beneran. Bukan penakut, tapi otaknya lagi belajar bedakan mana bahaya mana tidak. Wajar.
2. Label Penakut Bikin Tambah Takut.
Kalau anak dibilang "penakut", "cengeng", "manja", yang tertanam di otaknya: "Aku memang penakut." Akhirnya dia malu cerita takutnya, dipendam sendiri, malah jadi lebih takut. Di warung Manyar, kayak tukang yang dibilang malas, jadi beneran malas.
3. 5 Cara Mendampingi Anak Takut Jadi Pemberani:
- Validasi dulu, jangan ejek: Bilang "Iya, Ibu lihat kamu takut sama suara petir magrib, wajar kok, suaranya keras ya. Sini Ibu peluk." Pelukan lebih ampuh dari ceramah.
- Jangan paksa langsung hadapi: Kalau takut gelap, jangan langsung matikan lampu. Temani pakai lampu LED Philips 18 watt yang redup dulu, pelan-pelan.
- Ceritakan lewat main: Gambar hantunya, kasih nama lucu, lalu ajak anak coret-coret hantunya. Takutnya jadi mainan.
- Jadi contoh berani: Kalau ibu bapak takut kecoa teriak, anak ikut takut. Tunjukkan "Wah ada kecoa, ayo kita buang bareng pelan-pelan."
- Puji usahanya, bukan hasilnya: "Tadi kamu sudah berani masuk warung meski masih takut, hebat!" Bukan "Tuh kan berani, gitu aja takut."
Penutup
Jam 22.00 warung mau tutup. Anak Bu Ani tadi sudah pulang, sudah tidak nangis karena saya kasih permen dan tidak bilang penakut. Saya bilang "Pemberani kecil sudah datang."
Anak takut itu bukan aib, itu tanda dia lagi tumbuh jadi pemberani. Tugas kita di Manyar bukan bikin anak tidak pernah takut, tapi bikin anak tahu kalau takut itu boleh, dan ada orang yang temani.
Ono wong moco, oleh manfaat, dadi ganjaran. Manyar Gresik is Yes lah!
Disclaimer Toko Manyar Gresik - Warung kito: Saya bukan psikolog anak, bukan ahli parenting. Saya hanya penjaga warung kelontong di Manyar Gresik buka jam 05.00-22.00 lampu LED Philips 18 watt, hanya share artikel saja berharap amal jariyah. Artikel rasa takut pada anak itu wajar ini ada campur tangan AI untuk membantu merangkum ilmu tumbuh kembang anak, sudah saya cek dan edit sendiri. Untuk kasus khusus, silakan konsultasi ke guru PAUD atau psikolog. Tujuannya belajar bareng.
0 Response to "Rasa Takut pada Anak Itu Wajar, Jangan Dibilang Penakut! Ini Cara Mendampinginya"
Posting Komentar