Pernah nggak ngalamin ini? Lagi jaga toko, bawa anak umur 2-4 tahun, eh dia lihat es krim atau mainan. Minta dibeliin, kita bilang "nggak boleh". Langsung drama: nangis kenceng, guling-guling di lantai, tendang-tendang etalase. Pembeli lain pada ngeliatin. Rasanya pengen bumi nelen kita saat itu juga.
Tenang, kamu
nggak sendirian. Hampir semua orang tua pernah ngalamin. Dan kabar baiknya, itu
BUKAN karena anak nakal atau kamu gagal jadi orang tua.
Itu
namanya tantrum, dan itu fase normal di usia 1-4 tahun.
Nggak perlu malu dan nggak perlu ngomel. Jongkok sejajar mata anak dan temani emosinya, itu kunci atasi tantrum di tempat umum.
Kenapa
Sih Anak Suka Tantrum, Apalagi di Toko?
Di usia
segitu, otak anak bagian pengatur emosi belum mateng. Ibarat HP, RAM-nya masih
1GB tapi aplikasinya banyak. Begini penjelasannya:
1. Nggak
Bisa Ngomongin Maunya Apa
Dia pengen bilang "Bu, aku capek, aku pengen es krim itu biar happy",
tapi kosakatanya belum cukup. Jadinya yang keluar cuma nangis.
2. Tempat
Umum Itu Overstimulasi
Toko itu rame, warna-warni, banyak mainan, banyak orang. Otak anak jadi capek
dan gampang meledak. Makanya tantrum sering kejadian di mall, toko, atau pasar,
bukan di rumah.
3. Lagi
Belajar Batasan
Dia lagi ngetes: "Kalau aku nangis guling-guling, ibu bakal ngasih nggak
ya?" Kalau sekali dikasih karena malu sama pembeli, besok dia bakal pakai
jurus yang sama lagi. Pinter.
Jadi,
tantrum itu bukan aksi ngelawan kamu, tapi dia lagi bingung sama perasaannya
sendiri.
5 Cara
Hadapin Tantrum Tanpa Ngomel dan Tanpa Malu
Ini teknik
yang dipakai psikolog anak, tapi aku bikin versi penjaga toko biar gampang
dipraktekin:
1. Jangan
Dibujuk, Jangan Diancam, Cukup Temani (Teknik Stay Close)
Salah: "Diam! Malu diliat orang! Nanti nggak dibeliin apa-apa lagi!"
Benar: Jongkok sejajar sama anak, bilang pelan: "Adik marah ya karena
nggak boleh beli es krim? Ibu paham adik kesel."
Kamu nggak
usah malu sama pembeli. Bilang aja ke pembeli, "Maaf ya bu, anak saya lagi
belajar sabar." Pembeli pasti paham. Kalau kamu ikut teriak, tantrumnya
makin panjang.
2.
Alihkan Sebelum Meledak (Teknik Distraksi Cepat)
Tantrum itu ada tanda-tandanya: mulai cemberut, merengek pelan. Nah di detik
itu langsung alihkan.
Contoh pas
di toko: "Eh dek, tolong ibu hitungin yuk, kerupuknya ada berapa? Atau
tolong jagain kasir bentar ya, ibu mau ambil tisu."
Otak anak
gampang teralihkan. Kasih dia "misi penting", dia bakal lupa sama es
krimnya.
3. Kasih
Pilihan, Bukan Larangan (Teknik 2 Pilihan)
Anak benci dilarang, tapi suka disuruh milih karena merasa berkuasa.
Salah:
"Nggak boleh jajan!"
Benar: "Hari ini kita nggak beli es krim, tapi adik boleh pilih: mau minum
air putih pakai gelas biru atau gelas merah? Atau mau bantu ibu susun
permen?"
Dia tetap
nggak dapet es krim, tapi dia dapet kuasa untuk memilih hal lain.
4. Peluk
Setelah Tenang, Bukan Pas Lagi Jerit-Jerit
Jangan peluk pas dia lagi guling-guling dan teriak paling kenceng, karena dia
belum bisa nerima. Tunggu 30 detik sampai tangisnya agak reda jadi sesenggukan.
Baru peluk
dan bilang: "Pinter, sudah tenang ya. Tadi marahnya besar sekali ya. Yuk
minum dulu."
Pelukan
setelah tenang itu ngajarin dia: oh, kalau aku tenang, aku dipeluk.
5. Bikin
Aturan Sebelum Masuk Toko (Teknik Briefing)
Ini paling ampuh buat penjaga toko. Sebelum buka toko atau sebelum ajak anak ke
toko, briefing dulu 1 menit di rumah:
"Dek,
hari ini kita ke toko. Di toko kita nggak beli jajan dulu ya, jajan-nya nanti
sore di rumah. Kalau adik pengen sesuatu, bilang ke ibu pelan-pelan, jangan
nangis. Kalau adik bisa sabar, nanti kita tempel bintang di papan."
Anak yang
sudah di-briefing, tantrumnya berkurang 70%. Karena dia sudah tau aturannya
dari awal.
Ingat:
Tantrum bukan untuk dihukum, tapi untuk ditemani. Anak yang sering dimarahi pas
tantrum, besarnya jadi nggak bisa ngatur emosi dan gampang meledak juga.
Kapan
Harus Waspada?
Tantrum itu
normal, TAPI jadi nggak normal kalau:
1.
Sehari
bisa tantrum lebih dari 5 kali dan tiap tantrum lebih dari 25 menit.
2.
Pas
tantrum suka mukul kepala sendiri ke lantai / tembok sampai luka.
3.
Umur
sudah di atas 5 tahun tapi masih sering guling-guling hebat.
4.
Nggak
bisa ditenangkan sama sekali dan nggak ada kontak mata.
Kalau ada
tanda ini, jangan di-diagnosa sendiri. Coba ngobrol sama kader posyandu, bidan,
atau psikolog anak di puskesmas.
RENUNGAN
UNTUK KITA PENJAGA TOKO YANG JUGA JADI ORANG TUA
Jadi penjaga
toko sambil momong anak itu capeknya double. Badan jaga toko, hati jaga
perasaan anak. Kadang pembeli komplain, anak juga nangis di kaki. Rasanya
pengen marah ke semuanya.
Kita sering
mikir, "Anak orang lain kok anteng, anakku kok drama terus di toko?"
Padahal,
anak yang tantrum di toko itu bukan anak nakal. Dia cuma lagi cari cara bilang
"Bu, aku capek di sini seharian, aku butuh perhatian."
Kita jaga
toko dari pagi sampai malam buat masa depan anak. Tapi jangan sampai karena
sibuk jaga toko, kita lupa jaga hatinya hari ini.
Nggak
apa-apa kalau toko berantakan sedikit karena anak nangis. Nggak apa-apa pembeli
nunggu sebentar karena kamu lagi nenangin anak. Toko bisa dibersihin lagi,
pembeli bisa datang lagi. Tapi momen anak belajar percaya sama ibunya, cuma ada
sekali di usia segini.
Hari ini,
kalau anak tantrum lagi, coba tarik napas dulu kayak teknik nomor 5 tadi.
Jongkok, sejajarin mata, dan temani. Nggak usah malu.
Kita bukan
orang tua yang gagal. Kita cuma orang tua yang lagi belajar, sama kayak anak
kita yang juga lagi belajar jadi manusia.
DISCLAIMER
PSIKOLOGI
Artikel ini
ditulis oleh admin sebagai pemerhati parenting dan pengalaman pribadi menjaga
toko sambil mengasuh anak, BUKAN sebagai psikolog anak profesional.
Informasi di
atas hanya untuk tujuan edukasi umum dan berbagi pengalaman, bukan untuk
mendiagnosis gangguan perilaku atau menggantikan konsultasi profesional. Setiap
anak unik dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Jika kamu
khawatir dengan perkembangan emosi anak, silakan berkonsultasi dengan psikolog
anak, dokter tumbuh kembang, atau tenaga kesehatan di puskesmas / rumah sakit
terdekat.
KAMUS
KECIL
1.
Tantrum
Ledakan
emosi anak berupa nangis kenceng, guling-guling, teriak, karena belum bisa
ngatur rasa kecewa atau marahnya. Normal di usia 1-4 tahun.
2.
Overstimulasi
Kondisi
otak anak kebanyakan menerima rangsangan (warna, suara, orang ramai) jadi capek
dan gampang meledak.
3.
Regulasi Emosi
Kemampuan
buat ngatur rasa marah / sedih biar nggak meledak-ledak. Ini yang lagi
dipelajari anak pas tantrum.
4.
Separation Anxiety
Rasa
cemas anak kalau jauh dari ibu / pengasuh utamanya. Makanya anak sering nempel
terus pas di toko.
5.
Distraksi
Teknik
mengalihkan perhatian anak dari hal yang bikin dia marah ke hal lain yang lebih
menarik, sebelum tantrumnya jadi besar.
0 Response to "Anak Suka Nangis Guling-Guling di Toko Kalau Nggak Diturutin? Ini Cara Hadapin Tantrum Tanpa Ngomel"
Posting Komentar