Surabaya, 6 Agustus 2026
Malam itu hujan deras. Petir menyambar, dan pintu kamarku terbuka pelan.
"Ibu... aku takut."
Anakku berdiri di ambang pintu, memeluk guling, matanya bulat menahan sesuatu.
Dan tahu apa yang hampir keluar dari mulutku?
"Gituan saja takut. Petir doang, kok."
Kalimat itu sudah di ujung lidah. Untungnya, sesuatu menahanku. Mungkin karena aku tiba-tiba ingat: dulu, aku juga pernah berdiri di ambang pintu yang sama, dan mendengar kalimat yang sama. Dan rasanya... tidak enak. Sama sekali tidak menenangkan.
Kita sering lupa: bagi orang dewasa, petir itu biasa. Tapi bagi anak yang baru beberapa tahun hidup di dunia, suara itu besar, asing, dan mengancam. Ketakutannya nyata. Seratus persen nyata.
Masalahnya, saat kita menjawab "gituan doang takut", anak tidak belajar menjadi berani. Dia belajar hal lain: bahwa perasaannya salah. Bahwa takut itu memalukan. Bahwa kalau dia jujur soal perasaannya, dia akan diremehkan.
Lama-lama, dia berhenti bercerita.
Dan bertahun-tahun kemudian, kita bingung sendiri: "Kenapa ya, anakku kalau punya masalah nggak pernah cerita?"
Padahal pintunya kita sendiri yang menutupnya sedikit demi sedikit, setiap kali kita meremehkan perasaannya.
Emosi yang diakui akan tenang. Emosi yang ditolak akan bersembunyi, dan membesar dalam diam.
Lalu, harus jawab apa?
Tidak perlu teori parenting yang rumit. Tiga hal kecil ini cukup:
1. Turun ke levelnya.
Jongkok, tatap matanya. Biar dia tahu dia didengar, bukan dihakimi.
2. Namai perasaannya.
"Adik takut ya sama suara petir? Iya, suaranya memang bikin kaget." Aneh tapi nyata: perasaan yang dinamai akan kehilangan separuh kekuatannya.
3. Temani.
"Ibu di sini. Kita tunggu sama-sama ya, sampai hujannya reda."
Itu saja. Tidak perlu ceramah, tidak perlu membuktikan bahwa petir itu tidak berbahaya. Anak tidak butuh penjelasan ilmiah — dia butuh sandaran.
Dan satu hal penting: memvalidasi perasaan bukan berarti membiarkan anak mengatur rumah. Mengakui "Adik takut" bukan berarti harus tidur di ruang tamu semalaman. Perasaan diterima, batas tetap ada. Dua-duanya bisa jalan bareng.
Aku tahu, tidak mudah. Kita sendiri dibesarkan dengan kalimat "gituan doang takut", jadi wajar kalau kalimat itu yang otomatis keluar. Tidak usah menyalahkan diri. Menjadi orang tua bukan tentang sempurna, tapi tentang berani memutus rantai yang tidak baik.
Malam itu, aku tidak jadi mengucapkan kalimat warisan itu. Aku jongkok, kupeluk dia, dan kubisikkan: "Iya, Ibu tahu. Takut ya? Sini, Ibu temani."
Dan tubuhnya yang tadinya kaku... pelan-pelan rileks.
Kadang, yang dibutuhkan seorang anak bukan orang tua yang hebat. Cukup orang tua yang mau mendengarkan perasaannya sampai selesai.
P.S. Waktu kecil dulu, kalimat apa yang paling sering kamu dengar saat takut atau sedih? Dan sekarang, kalimat apa yang paling sering kamu ucapkan ke anakmu? Ceritain di komentar ya — bukan untuk saling menghakimi, tapi untuk saling belajar. 🫂