Kemarin sore di warungku Gresik, bosku, ada anak kecil umur 5 tahun, namanya Fadil, anaknya tukang becak depan pasar.
Dia datang pakai sandal jepit kebesaran, kaos oblong sobek, bawa uang 2 ribu, minta es teh.
Aku kasih es teh 4 ribu, aku bilang, "Uangmu kurang, Dil, 2 ribu saja tidak cukup."
Dia senyum, "Tidak apa-apa, Cak, nanti kalau kurang biar bapak yang bayar, bapak kan ada."
Aku diam, bosku. Malu.
Anak 5 tahun tidak pernah takut miskin. Dia yakin ada bapaknya. Kita umur 30, 40, 50 tahun, takut miskin tiap malam, padahal kita punya Bapak yang lebih besar: Allah.
Cara Anak Kecil Memandang Rezeki vs Orang Dewasa Memandang Rezeki
Anak Kecil:
- Punya uang 2 ribu, minta es teh 4 ribu, tidak takut, yakin ada yang nambahin.
- Hari ini makan tempe, besok makan ayam, sama saja senangnya.
- Tidak pernah mikir "Besok makan apa?" Yang dipikir "Hari ini main apa?"
- Kalau lapar, bilang "Mak, lapar", tidak gengsi.
- Kalau dikasih rezeki, langsung makan, langsung senang, tidak disimpan buat besok.
Orang Dewasa:
- Punya uang 2 juta, takut besok tidak ada, tidak bisa jajan.
- Hari ini makan tempe, ngeluh, "Kok tempe terus?"
- Tiap malam mikir "Besok bayar kontrakan gimana? Besok anak sekolah gimana? Besok kalau warung sepi gimana?"
- Kalau lapar, gengsi bilang lapar, tahan, pura-pura kenyang.
- Kalau dapat rezeki, tidak senang, langsung mikir "Ini cukup tidak buat seminggu?"
Anak kecil hidup hari ini. Orang dewasa hidup besok yang belum tentu ada.
Kenapa Anak Kecil Tidak Pernah Takut Miskin? 5 Pelajaran Rezeki dari Anak 5 Tahun
1. ANAK YAKIN ADA YANG KASIH, KITA TIDAK YAKIN:
Fadil yakin bapaknya ada, bapaknya kasih. Dia tidak pernah lihat dompet bapaknya, tapi yakin bapaknya punya uang. Kita? Kita punya Allah yang punya langit bumi, tapi kita tidak yakin. Kita lihat tabungan tipis, langsung takut. Padahal Allah tidak pernah lihat tabungan kita, Dia lihat yakin kita. Anak yakin bapaknya, kita tidak yakin Tuhannya. Itu bedanya.
2. ANAK MINTA LANGSUNG, KITA MIKIR DULU, GENGSI DULU:
Anak lapar bilang "Mak, lapar". Langsung dapat makan. Kita lapar, gengsi bilang lapar, bilang "Ah tidak apa-apa, nanti saja", ujungnya maag. Dalam rezeki, anak itu pinter: dia minta langsung ke sumbernya (bapak/ibu). Kita? Kita minta muter-muter, pinjam ke teman, pinjam online, tidak minta langsung ke Allah. Padahal Allah bilang "Mintalah kepada-Ku, Aku kasih". Anak paham itu, kita tidak.
3. ANAK TIDAK SIMPAN DENDAM REZEKI, KITA SIMPAN TAKUT:
Anak hari ini tidak dapat es teh, nangis 5 menit, besok lupa, minta lagi. Kita hari ini warung sepi, ingat 1 tahun, jadi trauma, jadi takut buka warung lagi. Anak tidak simpan dendam rezeki kemarin. Kita simpan takut rezeki besok. Anak hidup hari ini, kita hidup kemarin dan besok, tidak pernah hari ini.
4. ANAK SENANG DENGAN SEDIKIT, KITA SAKIT DENGAN BANYAK:
Fadil dapat es teh 4 ribu, senangnya seperti dapat mobil. Lompat-lompat, seruput keras, "Segar, Cak!". Kita dapat untung 400 ribu, masih ngeluh "Kok cuma 400 ribu, kemarin 500 ribu". Anak senang dengan sedikit, kita sakit dengan banyak. Karena anak lihat rezekinya, kita lihat rezeki tetangga. Anak bilang "Alhamdulillah dapat es teh", kita bilang "Kenapa dia dapat mobil, aku cuma dapat es teh?"
5. ANAK TIDAK KERJA, TAPI REZEKI DATANG, KITA KERJA TERUS, REZEKI TAKUT HILANG:
Ini yang paling nampol, bosku. Anak kecil tidak kerja, tidak buka warung, tidak nguli, tapi makan tiap hari, minum tiap hari, jajan tiap hari. Dari mana? Dari bapaknya. Rezeki datang tanpa kerja. Kita kerja dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam, tapi takut rezeki hilang. Padahal yang kasih rezeki anak sama dengan yang kasih rezeki kita: Allah. Bedanya, anak yakin, kita tidak. Anak pasrah, kita ngoyo. Anak tawakal, kita takut.
Pelajaran dari Warung Gresik Jam 5 Sore Kemarin
Fadil akhirnya dapat es teh 4 ribu, bosku. Aku kasih gratis yang 2 ribu, aku bilang "Yang 2 ribu sedekah dari warung". Dia senang, minum di kursi plastik biru, kaki tidak sampai lantai, goyang-goyang.
Bapaknya datang 10 menit kemudian, tukang becak, keringat, bawa uang 10 ribu, "Cak, ini buat es teh Fadil tadi, maaf uangnya kurang."
Aku bilang, "Tidak usah, Pak, sudah lunas, Fadil sudah bayar dengan senyumnya."
Bapaknya senyum, Fadil senyum, aku senyum. Es teh 4 ribu, senyum 3 orang.
Itu rezeki, bosku. Rezeki bukan cuma uang. Rezeki adalah Fadil yakin bapaknya bayar, bapaknya datang bayar, dan aku dapat senyum.
Kita orang dewasa hitung rezeki pakai kalkulator: 2 ribu + 10 ribu - 4 ribu = untung rugi. Anak kecil hitung rezeki pakai hati: ada es teh, ada bapak, ada Cak warung, sudah cukup.
Cara Balik Jadi Anak Kecil Dalam Memandang Rezeki (Agar Tidak Takut Miskin Lagi)
1. Yakin ada yang kasih, seperti anak yakin bapaknya ada. Allah ada, bosku, tidak pernah tidur, tidak pernah tutup warung.
2. Minta langsung, jangan gengsi. Lapar bilang lapar, butuh bilang butuh, ke Allah, bukan ke status WA.
3. Senang dengan yang ada hari ini. Hari ini dapat 50 ribu, senang, jangan ingat kemarin dapat 100 ribu.
4. Jangan simpan takut besok. Besok belum ada, yang ada hari ini. Besok urusan besok, seperti anak tidak mikir besok main apa.
5. Berbagi seperti anak. Anak dapat permen 1, bagi 2 ke teman. Kita dapat 100 ribu, pelit bagi 10 ribu. Padahal semakin bagi, semakin datang, seperti es teh 4 ribu tadi.
Penutup Jam 20.12 Malam - Malu Sama Fadil
Malam ini warungku sudah mau tutup, Fadil sudah pulang, bapaknya sudah narik becak lagi.
Aku duduk di kursi plastik biru, mikir: kenapa aku umur 40 tahun takut miskin, sedangkan Fadil umur 5 tahun tidak pernah takut miskin?
Jawabnya: karena Fadil punya bapak yang dia lihat tiap hari, dan dia yakin bapaknya kasih. Aku punya Allah yang tidak aku lihat tiap hari, dan aku tidak yakin Allah kasih.
Padahal Allah lebih dekat dari bapaknya Fadil. Allah yang kasih bapaknya Fadil uang 10 ribu untuk bayar es teh.
Mulai malam ini, aku mau belajar memandang rezeki seperti anak kecil: yakin ada yang kasih, minta langsung, senang dengan sedikit, tidak takut besok.
Karena rezeki itu seperti es teh 4 ribu: kalau yakin ada yang bayar, tidak takut minta.
Dan rezeki itu sudah dijamin, bosku, tugas kita bukan takut miskin, tugas kita adalah jadi seperti Fadil: senyum, minta, dan yakin.
Disclaimer Hikmah
Artikel ini adalah renungan tentang cara anak kecil memandang rezeki dan kenapa anak tidak pernah takut miskin seperti orang dewasa berdasarkan pengalaman penjaga warung di Gresik dan pelajaran kehidupan (kisah Fadil 5 tahun). Rezeki adalah ketetapan Allah, tugas manusia ikhtiar dan tawakal. Anak kecil tidak takut miskin karena fitrahnya masih bersih, yakin ada yang mengurus, sesuai hadist "Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah". Orang dewasa takut miskin karena banyak pikiran, banyak dosa, banyak gengsi. Artikel ini bukan ajaran malas kerja, tetap harus kerja, buka warung jam 5 pagi, tapi hati seperti anak kecil: yakin. Penulis adalah penjaga warung kelontong, bukan ustadz atau psikolog anak. Semoga kita bisa belajar rezeki dari anak kecil, agar tidak takut miskin lagi. Untuk masalah keuangan serius, konsultasi dengan ahli keuangan dan ustadz terpercaya.
Kamus Kecil
1. Rezeki: Apa saja yang Allah kasih: uang, senyum, es teh 4 ribu, sehat.
2. Takut Miskin: Penyakit orang dewasa, takut besok tidak ada, padahal Allah ada.
3. Fitrah Anak: Hati bersih anak kecil yang yakin ada yang kasih.
4. Tawakal: Yakin setelah ikhtiar, seperti anak yakin bapaknya bayar.
5. Kursi Plastik Biru: Saksi Fadil minum es teh 4 ribu dengan senyum tanpa takut miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar