6 Agustus 2026

Tanda Kecemasan pada Anak yang Sering Dikira "Nakal"

Surabaya, 6 Agustus 2026
Anak menangis memeluk ibunya di gerbang sekolah, tanda kecemasan pada anak yang sering dikira nakal
"Bukan 'kamu kok nakal sih?', tapi 'ada yang bikin kamu khawatir?'. Berjongkok sejajar mata anak kadang jadi langkah pertama yang paling menyembuhkan."
Pagi tadi saya melihat pemandangan yang menempel di kepala. Di gerbang sekolah, seorang anak laki-laki kira-kira enam tahun menangis sambil memeluk tasnya erat-erat, menolak masuk kelas. Wajah ibunya campur aduk antara malu dan lelah. "Kamu ini nakal banget, sih!"
Saya paham. Jadi orang tua itu berat. Tapi ada satu pertanyaan yang nggak pergi-pergi dari kepala saya: bagaimana kalau anak itu sebenarnya bukan nakal? Bagaimana kalau dia cemas?

Anak Nggak Bilang "Aku Cemas, Ma"

Ini yang sering kelewat. Anak-anak, apalagi di bawah sepuluh tahun, belum punya kosakata emosi untuk bilang "aku cemas". Yang mereka punya cuma perilaku. Dan sayangnya, perilaku cemas itu wujudnya mirip sekali dengan kenakalan.
Dalam psikologi anak, ini hal yang cukup dikenal: kecemasan pada anak sering tampil sebagai marah, menghindar, atau keluhan fisik — bukan takut.

Tanda Kecemasan pada Anak yang Sering Salah Baca

1. Tantrum dan marah yang "berlebihan". Saat anak meledak karena hal sepele, kita menyebutnya nakal. Padahal bisa jadi sistem saraf kecilnya sedang kelebihan beban khawatir.
2. Sakit perut yang datangnya sebelum sekolah. Pusing, mual, minta ke toilet berulang-ulang — tapi saat diperiksa dokter, tidak ada yang salah. Tubuh sering kali lebih jujur daripada mulut.
3. Dicap "nggak bisa diam". Anak yang kepalanya penuh kecemasan susah fokus. Di kelas ia gelisah, dan menempellah label "susah konsentrasi".
4. Tidur yang berubah. Mimpi buruk, sulit terlelap, atau tiba-tiba minta tidur bareng orang tua lagi.
5. Menempel ekstrem. Panik saat dipisah, bertanya hal yang sama berulang-ulang untuk mencari kepastian.
Satu-dua hal di atas bisa saja normal. Tapi kalau muncul bersamaan, berlangsung berminggu-minggu, dan mulai mengganggu sekolah atau pertemanan — di situ kita perlu melihat lebih dekat.

Lalu, Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?

Pertama, turunkan label "nakal" itu. Ganti "Kamu kok nakal sih?" dengan "Ada yang bikin kamu khawatir nggak? Cerita boleh, kok."
Jaga rutinitas tetap konsisten. Bagi anak, prediktabilitas adalah obat penenang.
Dan kalau terasa berat sendiri, konsultasi ke psikolog anak bukan tanda kegagalan. Itu seperti ke dokter saat anak demam — karena mereka layak dapat dukungan.
Lain kali kita bertemu anak yang "ngamuk" di tempat umum, mungkin kita nggak perlu buru-buru menghakimi. Karena kadang, yang terlihat seperti kenakalan hanyalah kecemasan yang belum menemukan katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar